Categories
Seni

Tukang Gambar

Teman saya, yang sekretaris di MNC itu, membuatkan ilustrasi itu untuk cerpen saya. Beruang Kutub. Dia membacanya dulu sebelum menggambarnya, barulah sehari kemudian dia menyodorkan draft-nya.

Saya memang kurang pandai berkomentar atau mengkritik. Seperti halnya menilai makanan. Yang pilihannya antara enak atau tidak enak. Kalau makanan itu enak, sulit sekali untuk mengatakan kekurangannya. Makanya saya hanya bilang draft itu (memang) bagus.

Dia menggambarnya di iPad Pro. Pakai aplikasi MediBang Paint. Saya pikir lebih sulit menggambar di iPad daripada manual dengan pensil. Dia sendiri tidak punya latar belakang pendidikan menggambar atau ilustrator. Hanya hobi.

Adik saya yang pertama juga suka menggambar. Dulu sekali. Pernah juara menggambar di event Pameran Pembangunan. Di GOR Bekasi itu. Bisa dibilang lomba itu setingkat Kabupaten (saat itu Bekasi masih satu). Saya tidak tahu apa yang digambarnya. Tau-tau sudah jadi juara. Saya hanya tahu hadiahnya jam dinding yang diambil sama Ayah di Kantor Pemda. Langsung dicopot dari dindingnya.

Sekarang adik saya itu kerja di Pizza Hut. Sudah dua puluh tahun. Saya pernah lihat dia menggambar skestsa singa. Sangat bagus.

Ayah saya juga suka menggambar. Saya juga. Saya menggambar di mana saja. Di buku tulis sekolah. Di papan tulis kelas. Di dinding. Apapun yang bisa digambar. Saya pernah juara menggambar lomba tujuh belasan di RT. Mengalahkan adik saya.

Tapi tetap saja adik saya menggambar lebih bagus. Lebih luwes, kata Ibu saya. Sementara gambar saya kaku, yaaah sama seperti tulisan-tulisan saya di sini.

Hanya adik saya yang ketiga yang menjadikan gambar sebagai profesi. Tapi bukan menggambar yang saya maksud. Adik saya yang ketiga itu seorang desainer. Kuliahnya jurusan desain. Kerjanya juga jadi desainer. Baru-baru ini ia dapat kerja baru. Jadi desainer interior.

Tinggalkan Balasan