Terminator: Dark Fate

Terminator: Judgement Day (T2), film terakhir ayah ngajak saya nonton di bioskop. Tidak seperti biasanya, kami waktu itu nonton di bioskop Parahiangan Bekasi. Yang di depan stasiun itu. Yang kini jadi pusat usaha percetakan terbesar di Bekasi. Setelah itu, bertahun-tahun kemudian, saya yang gantian ngajak ayah nonton. Terakhir kami nonton Annabelle: Comes Home.

Tadi malam saya nonton Terminator: Dark Fate. Sneak preview di CGV Bekasi Cyber Park, yang tayangnya jam 22.30. Itu kedua kalinya saya nonton sneak preview di CGV setelah sepekan lalu nonton Zombieland: Double Tap. Dulu, biasanya saya nonton di Mega Bekasi. Sebelum ada CGV.

Selarut itu yang nonton lumayan ramai. Lebih banyak dari Zombieland. Mungkin kebanyakan para penggemar Terminator yang penasaran, katanya Dark Fate lebih bagus dari T2. Juga come back-nya James Cameron, yang tidak mengakui tiga film terminator setelah T2. Cameron memang bukan sutradaranya, ia duduk sebagai produser. Meski begitu namanya jadi jaminan film bagus. Biasanya. Seperti terakhir kalinya memproduseri film Alita: Battle Angel. Apalagi sang sutradara The Dark Fate ditampuk ke pundak Tim Miller, yang pernah sukses dengan Deadpool. Saya pikir Dark Fate bakalan bagus. Juga yang dipikirkan penggemar Terminator.

Tapi, beberapa hari sebelum tayang rating-nya di imdb.com sudah keluar. 6.5. Dan per hari ini ratingnya 6.7. What!! kecil banget dibandingin dua film pendahulunya yang masuk jajaran film terbaik versi imdb.

Jadi apa yang salah?

Lalu saya baca review-nya, dan penasaran, apa yang membuat rating Terminator: Dark Fate begitu rendah.

Pertama, terlalu banyak CGI. Tahun ini banyak film bagus dengan CGI. Salah satunya dan yang terbaik tentu saja Avengers: End Game. Untuk bersaing dengan End Game dan sejenisnya, sulit kalau hanya mengandalkan CGI. The Dark Fate seharusnya bisa seperti Joker. Dengan anggaran relatif rendah, Joker sudah melampaui box office untuk film nomor satu dengan rating-R: Deadpool.

Kedua, cerita. Tidak ada yang baru dari cerita.

Terminator (1984), walaupun bertema action & sci-fi, namun lebih terkesan horror. Saya nonton itu waktu kecil dan sampai benar-benar membuat saya menutup wajah. Jalan ceritanya juga cukup menyentuh, khususnya antara hubungan Sarah dengan Kyle Reese, prajurit masa depan utusan John Connor. Lalu dalam T2, hubungan antara T-800 dengan John Connor membuat penonton tenggelam dalam alur cerita. T-1000 benar-benar teror bagi Sarah dan John Connor.

Akhirnya saya membuktikannya setelah nonton filmnya tadi malam. Barangkali rating enam koma masih terlalu baik. CGI-nya biasa saja. Cuma yang mengganggu itu adegan di pertempuran malam hari di pesawat malam yang terlalu gelap. Lalu, dari segi cerita? Meskipun menawarkan plot baru, tapi cukup mengecewakan. Tema cerita sama saja. Titik balik dari jalan cerita barunya adalah kematian John Connor. John ditembak T-800 satu tahun setelah peristiwa Judgment Day (1997) yang berhasil dicegah Sarah Connor. Dan 22 tahun kemudian muncul calon pahlawan baru di masa depan, serupa dengan John Connor. Namanya Dani Ramos, seorang gadis Mexico. Setelah itu, ceritanya sama dengan dua terminator sebelumnya. Satu Terminator diutus untuk membunuh Dani, sedangkan satu lagi diutus manusia super untuk melindunginya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *