Siklus Kucing

  • Ali 
whiskas-kucing

Umurnya baru 3 tahun. Mungkin kurang. Tapi dia terlihat sangat tua. Apakah semua kucing begitu?

Kalau hidup semua, Entis sudah punya enam anak. Empat anaknya yang lahir di tahun 2019 itu mati semua. Penyebabnya beda-beda. Dua yang masih hidup lahir setelah banjir di bulan Pebruari 2020.

Nama dia Entis. Ibu saya yang kasih nama. Awalnya adik perempuan saya protes. Entis itu nama cowok, sama seperti nama asli Sule. Entis Sutisna. Tapi ibu bilang Entis juga bisa buat nama cewek. Akhirnya kami sepakat namanya Entis.

Saya yang pertama kali menemukan Entis, lagi sembunyi di bawah motor. Hampir saja tergilas ban. Atau mungkin sudah, tapi sedikit. Saya tahu itu dari suara meongnya yang cuma satu kali dan melengking. Tapi setelah dicek, dia tidak ada cedera sama sekali. Merasa bersalah, pagi itu juga saya belikan dia Whiskas sacetan di Indomaret.

Umurnya waktu itu satu atau dua bulan. Besarnya sama seperti dua anaknya yang sekarang. Kelakuannya juga. Suka lari-larian, lompat-lompat, mainin apa aja. Anak-anak tetangga suka sama Entis.

Entis termasuk kucing awet. Pasalnya anak tetangga juga pernah mungut kucing, tapi kemudian mati. Ada yang kelindas motor. Ada juga yang sakit. Cuma satu yang awet, namanya Kimi, yang entah kenapa kucing peranakan Anggora berkeliaran di jalan. Tidak ada kalung di leher Kimi.

Kimi bukan Anggora tulen. Badannya kecil seperti kucing kampung. Bedanya, bulu Kimi lebih banyak meski tidak sebanyak Anggora. Kimi itu kucing cewek yang tidak banyak ngomong dan galak. Sebetulnya hidup Kimi enak. Majikannya baik. Dia disediakan kandang sendiri, makanan enak dan pergi ke dokter kalau sakit. Tapi dia memilih kabur.

Di sekitaran rumah, Entis jadi kembang desa. Banyak kucing jantan yang suka sama dia. Baru umur setahun (kurang) Entis sudah bunting. Sulit ditebak siapa yang buntingin. Anaknya saja beda-beda warnanya. Dua abu-abu, satu hitam.

Dia suka main sama ketiga anaknya. Anak-anaknya juga lincah. Suka lari-larian, lompat ke sana-kemari. Ngacak-ngacak kerjaannya. Tapi usia ketiganya tidak lama. Dua anaknya bahkan tidak sampai dua bulan. Hanya satu yang bertahan dan itu pun mati dua minggu kemudian.

Entis tidak kapok bunting. Beberapa bulan kemudian satu anaknya lahir. Warnanya hitam. Jalannya belum lancar meski sudah sebulan lebih. Dua kaki belakangnya lemah, jadi jalannya ngesot. Usia si hitam ini juga tidak sampai dua bulan.

Dua anak terakhir Entis lahir Pebruari lalu. Setelah melahirkan, Entis lebih terlihat seperti manusia usia empat puluhan. Dia juga males. Sering gigit kaki minta makan. Cuma terlihat lincah waktu dengar suara Komik, si tukang sayur.

Suara Komik sebenarnya sama seperti suara tukang sayur yang lain. Tapi entah bagaimana Entis bisa kenal suara Komik.

“Sayur! … Sayur!” teriak Komik di depan rumah.

Entis langsung lari ke depan secepat kilat, lalu melompati pagar dan mengeong-ngeong sambil memutari motor Komik. Komik biasanya melempar kepala ikan atau ayam sisa pada Entis. Tapi belakangan ini Entis tidak mau menghabiskannya. Cuma dicium-cium, dibawanya ke dalam rumah dan ditinggalkan begitu saja. Entis cuma mau makan Whiskas. Tidak mau ayam atau ikan. Hanya suka ikan asin dan teri.

Kalau ada yang bisa dibanggakan dari Entis, dia tidak pernah pup sembarangan. Bahkan sebelum kenal yang namanya kamar mandi. Dia biasa pup di luar. Barulah setelah kenal kamar mandi dia pup di lantai kamar mandi belakang. Baunya minta ampun.

Akhir-akhir ini Entis lebih sering terlihat bengong dan tiduran, dan membiarkan dua anaknya netek. Dia juga terlihat pasrah, seolah-olah ajalnya sudah dekat.

Entis bukan kucing pertama atau kedua yang datang ke rumah. Saya lupa sudah berapa banyak kucing yang pernah tinggal. Bedanya kucing-kucing sebelumnya cowok dan tidak terlalu ngerepotin orang serumah.

Pernah ada satu kucing cowok yang hidup lumayan lama. Kami memeliharanya dari masih kecil. Kucing pungut juga, yang sering main ke rumah. Warnanya hitam-putih. Setelah dewasa ia menghilang sampai akhirnya ditemukan mati di atas plafon teras. Sementara kucing yang lain yang pernah tinggal di rumah menghilang begitu saja di usia tuanya.

Dari situ saya berpikir, bahwa siklus kucing sama saja. Masih kecil terlihat lincah dan lucu, masa remajanya galak, masa tuanya males-malesan dan setelah itu tiba-tiba menghilang begitu saja. Atau, kemudian ditemukan mati.

<>

Tag:

Tinggalkan Balasan