Setengah Lockdown

  • Ali 

Subuh itu menjadi sholat berjemaah terakhir di masjid Al-Muhajirin. Begitu yang disampaikan lewat WAG. Masjid akan ditutup, setidaknya sampai lebaran. Tapi adzan akan terus berkumandang. Pengumuman itu ditegaskan Ketua DKM usai sholat subuh tadi. Saya juga mendengarnya dari rumah. Suaranya sayup-sayup. Tidak jelas.

Mungkin keputusan itu datang dari desakan jemaah. Termasuk saya. Meski begitu masih harus ada yang dipikirkan pasca penutupan masjid itu. Tentang gaji marbot dan imam masjid.

Seharusnya masjid tidak perlu cemas akan masalah itu. Sejak dibangun tahun 1986, masjid selalu mandiri. Dananya dari swadaya warga. Tidak pernah minta-minta di jalanan.

Desain masjid dirancang Pak Jamal, seorang arsitek. Dipasang di papan pengumuman masjid. Dari gambar itu terbayang betapa bagusnya masjid kalau sudah jadi nanti. Tapi pembangunan itu tidak lancar-lancar amat. Apalagi hambatannya kalau bukan dana.

Ketika pertama kali dibuka untuk jum’atan di tahun 1988, jemaahnya lumayan banyak. Padahal atapnya saat itu masih seng, yang berisik ketika hujan turun, dan sangat panas ketika musim kemarau. Lantainya masih berupa coran semen yang mudah gompal dan hancur.

Pembangunan masjid terus berlangsung. Yang paling ekstrim itu ketika lantai masjid diurug dan ditinggikan. Tempat wudhu yang tadinya di depan masjid di pindah ke sebelah selatan. Atap masjid dibongkar, dipasang rangka baja. Seng diganti genteng yang tebal dan kuat. Lantainya dilapisi keramik. Halamannya ditutup konblok. Sekeliling masjid dipagari sampai SMAN 2 Bekasi.

Tahun 2001 masjid melalui DMI (Dewan Masjid Indonesia) mendapat bantuan Menteri Perhubungan. Dibuatlah wartel dan warnet. Yang diresmikan Menteri Perhubungan Agung Gumelar. Anak-anak remaja dijadikan operatornya.

Jemaah yang terus bertambah juga membuat masjid menambah lantai. Luas lantai kedua itu setengahnya ruang utama. Lantai keramik diganti marmer. Bertahun-tahun kemudian lantai atas pun ditambah sayap. Tapi itu juga belum cukup. Masjid meminta tambahan lahan dari Pemkot dan disetujui. Sekitar tahun 2018 teras masjid diperlebar 20 meter ke sebelah kanan (utara). Lantainya dari marmer. Dana itu didapat dari Bank Syariah Mandiri. Jumlahnya setengah miliar. Sebagian dana itu dibelikan karpet dan perlengkapan kantor. Jauh sebelum itu masjid juga pernah dapat dana dari Bank BNI Syariah. Jumlahnya juga setengah miliar.

Baru-baru ini masjid baru saja selesai memasang kanopi di samping tempat wudhu dan mengganti konblok di halaman kiri dengan marmer.

Di bulan puasa donaturnya melimpah, yang tentu saja kebanyakan dari warga sekitar. Termasuk ibu-ibu majlis taklim yang membuatkan makanan untuk buka puasa.

Seharusnya gaji marbot atau imam selama masa penutupan sementara itu bukan masalah besar. Tapi saya tidak tahu berapa saldo masjid saat ini. Saya juga tidak mau tahu dan tidak ingin mencari tahu. Orang bijak bilang, terlalu kepo bisa jadi masalah.

<>

Catatan tambahan:

Setelah menulis ini saya dapat dari WA grup bahwa meskipun masjid memang benar ditutup, sholat berjemaah masih tetap jalan. Tanpa dikordinir DKM. Hanya tempatnya di pindah ke teras sebelah kanan masjid.

Ah, ternyata itu yang dikatakan suara sayup-sayup subuh tadi.

<>

Tag:

Tinggalkan Balasan