Seandainya …

Ide menulis ini datang tidak sengaja ketika saya buka instagram sebuah perusahaan. Ada foto salah seorang karyawannya. Tepatnya, mantan karyawan. Seorang anak muda, usianya tiga puluhan, mengenakan kaos hitam. Dia tampak bahagia. Entah itu foto diambil kapan, tapi kini si anak muda itu sudah tiada. Ada tulisan Rest in Peace di sudut kanan foto itu. Dia meninggal karena kanker/tumor batang pankreas.

Saya coba telurusi instagramnya dan sebuah website fundraising. Ada kutipan kata-kata dari sahabatnya, bahwa anak muda itu orang yang tidak pelit ilmu. Giat membantu UKM. Dan sama seperti di masa sulitnya, di saat kanker itu menyerang, anak muda itu masih mau berbagi. Di IG story, ia berpesan pada sahabat-sahabatnya supaya jangan jadi seperti dirinya. Nasehatnya jelas, peringatannya pun tegas. Itu karena ia sedang mengalaminya. Kalian harus hidup sehat. Menghindari gula. Banyak berolah raga. Tidak merokok. Dan jangan stress.

Anak muda itu menyesal. Seandainya ia tahu akan mengidap kanker, pastinya ia akan mengubah gaya hidupnya.

Seandainya …

Ya, seandainya.

Kalimat itu seharusnya juga ditujukan pada kita. Yang masih sehat.

Seandainya kita tahu bakalan kena kanker, apa yang kita lakukan sekarang?

* * *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *