Sang Muadzin.

Sepuluh menit menjelang dzuhur, Pak Warsim terbangun dari tidurnya yang singkat. Dia melangkah hati-hati menuruni tiga anak tangga untuk sampai ke tempat wudhu. Sambil menyapa orang-orang yang dikenal dan tersenyum untuk yang tidak dikenal. Air wudhu membasahi wajah keriput dan rambutnya yang sedikit. Anak-anak SD yang baru pulang sekolah berlarian di teras masjid. Tas-tas mereka ditumpuk di samping pintu masuk. Sarung-sarung mereka diikat di pinggang. Mereka kenal dengan Pak Warsim karena Pak Warsim berjualan kue di sekolah mereka.

Pak Warsim mengganti kaus oblongnya dengan kemeja batik, memakai kopiah lusuhnya dan melangkah masuk ke masjid. Dia melihat jam dinding di atas mihrab, lalu beralih ke arah papan penunjuk waktu sholat. Terdengar sayup-sayup adzan dari masjid lain. Pak Warsim mengambil mic di atas mimbar, tangan kirinya diletakkan di atas telinga kiri hingga terlihat kaca jam tangan tuanya yang retak. Tangan kanannya gemetar seiring dimulainya adzan.

“Allahu Akbar. Allahu Akbar.”

Pak Warsim lulus mengumandangkan takbir. Suaranya pendek dan serak. Tapi kemudian suara untuk kalimat berikutnya tidak sampai ke nada tertentu, membuat yang mendengarnya tersenyum.

Tapi tidak semua, ada juga yang merasa malu.

Suara adzan Pak Warsim adalah suara pria tujuh puluh tahun yang bercampur logat Sunda, terdengar seperti degung. Seandainya Pak Warsim lima puluh tahun lebih muda, boleh jadi suaranya jauh lebih segar. Seandainya Anda yang membaca tulisan ini setua pak Warsim , boleh jadi suara Anda …. Ah, silahkan Anda bayangkan saja sendiri.

Sebenarnya Pak Warsim enggan melakukan adzan mengingat pernah beberapa kali mendapat teguran dari pengurus masjid. Tapi siapa lagi yang akan melakukannya? Masjid belum mendapat marbot baru. Kebanyakan anak muda datang terlambat. Orang-orang yang sudah hadir kebanyakan para pelintas. Hanya Pak Warsim satu-satunya jemaah yang siap untuk adzan.

Di ujung adzan, suara Pak Warsim memelan dan panjang. Inilah suara yang membuat pilu siapa saja yang mendengar.

Tapi tidak semua, ada juga yang merasa malu.

Pak Warsim meletakkan mic diatas mimbar lalu melangkah mundur untuk melakukan sholat sunnah. Pada saat itu jemaah sudah mulai berdatangan, riuh rendah suara canda anak-anak sekolah berpindah ke dalam masjid. Semua kipas angin dinyalakan.

Lima menit kemudian terdengar bunyi timer iqomah menghitung mundur dari angka 10. Pak Warsim mengambil mic untuk melakukan iqomah.

* * *

Pak Warsim duduk di teras masjid usai sholat. Dia memandang ke arah jemaah yang berjalan pulang. Yang satu per satu disapanya sambil tersenyum. Dia melakukannya hampir tiap hari.

“Pulang, Dek,” begitulah Pak Warsim menyapaku. Tidak berapa lama masjid itu kembali sepi. Pak Warsim kembali sendiri.

Pak Warsim seorang laki-laki tua yang sehari-hari mengayuh becak, menjual jajanan di SD dan bermalam di masjid setelah rumah kayunya digusur beberapa waktu silam. Tidak ada yang tahu di mana keluarganya. Ada yang bilang Pak Warsim berasal dari Cirebon. Saya masih ingat bentuk rumahnya di belakang gedung SD, berpagar kayu dengan kebun kangkung serta kandang ayam di sampingnya. Saya masih ingat suara adzan dan jam tangannya. Saya masih ingat hari ketika Pak Warsim meninggal setelah jatuh dari sepeda. Saya masih ingat pengumuman meninggalnya dari TOA masjid. Pak Warsim dimakamkan atas kebaikan Tuhannya. Saya masih ingat itu.

* * *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *