Rambo: Last Blood

Nostalgia

Apa yang membuat Rambo keren?

Tentu saja saat Rambo menyiapkan jebakan untuk musuh-musuhnya dan melumpuhkannya dalam jebakan tadi. Dan satu lagi: ikat kepalanya yang ikonik itu.

Saya nonton Rambo pertama, First Blood, di bioskop. Lama sekali itu. Setidaknya umur saya baru dua atau tiga tahun saat itu. Mungkin saya salah. Mungkin saya tidak nonton di bioskop. Mungkin itu cuma imajinasi saya. Tapi saya ingat adegan melompat dari atas pohon saat menyergap polisi yang memburunya. Jadi, anggap saja saya nonton First Blood di bioskop.

Di jamannya, di tahun 1980-an itu. Rambo merupakan pahlawan bagi anak-anak. Biasanya diadu sama Commando-nya Arnold Schwarzenegger. Siapa yang menang. Ada juga ide Rambo Indonesia.

rambo-first-blood
First Blood

Rambo kedua dan ketiga tidak sebagus Rambo pertama. Hingga akhirnya film Rambo (2008) dirilis. Wahyu, teman saya, yang mengajak saya nonton di Mega Bekasi.

Tadi siang saya baru saja nonton Rambo: Last Blood. Rambo terakhir. Seperti End Game-nya The Avengers.

Saya berharap nostalgia. Harapan saya terpenuhi. Khususnya di akhir film. Ketika cuplikan-cuplikan gambar dari First Blood sampai Last Blood.

Apa yang membuat Rambo keren?

Kamu bisa melihatnya lagi di Rambo: Last Blood.

Sinopsis

John Rambo menjalani hidup tenang di Arizona bersama Maria dan cucu Maria, Grabriella, yang sudah dianggap seperti anak sendiri. Ia punya kesibukannya sendiri. Menjadi sukarelawan. Menjinakkan kuda. Membuat terowongan bawah tanah. Juga membuat pisau.

Sampai suatu hari, Gabriella meminta izin padanya untuk menemui ayah kandungnya di Mexico. Rambo dan Maria melarangnya. Ayah Gabriella bukan seorang lelaki baik. Pernah meninggalkan anak dan istrinya yang sakit kanker.

Tapi Gabriella yakin ayahnya sudah berubah. Meski begitu, ia tidak bisa meyakinkan Maria. Dengan kecewa ia minta izin pergi ke rumah temannya, Antonia.

Alih-alih pergi ke rumah Antonia, Gabriella pergi ke Mexico untuk untuk bertemu ayahnya. Sayangnya, ia dikecewakan ayahnya. Ayahnya tidak pernah menginginkan dirinya atau ibunya. Gabriella sangat sedih. Marah. Kecewa.

Kesedihan Gabriella dimanfaatkan temannya, Gizelle, untuk pergi ke klub. Tapi bukan kesenangan yang didapat. Gizelle menjual Gabriella untuk dijadikan prostitusi.

Sementara itu, Rambo cemas Gabriella belum juga pulang. Ia memutuskan menyusulnya setelah mendapatkan alamat ayah Gabriella dari Maria.

Tidak mudah menemukan Gabriella di Mexico. Bahkan Rambo dihajar habis-habisan oleh sindikat prostitusi pimpinan Hugo dan adiknya, Victor. Rambo mengalami gegar otak. Mukanya lebam. Pipi-nya disayat pisau.

Beruntung seorang jurnalis menyelamatkannya dan membawanya ke dokter. Setelah tidak sadarkan diri selama 4 hari, Rambo kembali untuk membawa Gabriella pulang.

Gabriella memang bisa dibawa pulang, namun nyawanya tidak tertolong.

Rambo bertekad balas dendam.

Ia mempersiapkan rumah dan lahan peternakannya menjadi ladang perang. Di hampir semua sudut dipasangi ranjau dan jebakan lain. Mirip-mirip film Home Alone versi sadis. Setelah semuanya siap, Rambo pergi lagi ke Mexico. Ia menghabisi Victor yang pernah menyayat pipinya. Victor dipenggal. Kepalanya di lempar ke jalanan. Rambo melakukannya untuk memancing Hugo dan anak buahnya masuk ke dalam wilayah perangnya.

Review

Selama lebih dari satu jam penonton dibawa ke dalam sebuah drama dan “dipaksa” menunggu aksi-aksi Rambo. Bahkan saya merasa geretan ketika Rambo sama sekali tidak melawan balik waktu dihabisi geng-nya Hugo dan Victor. Tapi bisa dimaklumi. Dikeroyok puluhan orang, tanpa senjata, apa hal terbaik yang bisa dilakukan selain berharap masih bisa hidup.

Rambo memang bisa selamat, namun hidupnya seolah tidak berarti ketika Gabriella mati dalam perjalanan pulang.

Dan barulah di sepertiga akhir film kita disuguhi adegan-adegan pelampiasan kemarahan. Di sini, penonton seolah ikut puas dengan aksi kebrutalan Rambo menghabisi gengnya Hugo. Tidak ada lagi rasa kasihan seperti dalam First Blood.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *