Jelang PSBB

  • Ali 
psbb-pembatasan-sosial-berskala-besar

Dua hari menjelang PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Jalan Ahmad Yani masih ramai seperti biasa. MM masih tutup. BCP buka jam 11 sampai jam 9 malam, kecuali Hari Hari Swalayan yang buka dari jam 9 pagi. Saya belum pergi lebih jauh BCP sejak hampir dua pekan terakhir.

Di sini, di Kayuringin ini, masih lumayan ramai. Sebagian masjid masih ada yang mengadakan sholat berjamaah. Warung-warung juga masih banyak yang buka. Padahal, Kayuringin jadi yang terbesar postif Covid-19 di Bekasi Selatan. Jumlahnya 14 orang.

Lalu, perasaan itu pun muncul. Tentang rasa percaya diri bahwa saya tidak akan terinfeksi. Informasi 14 orang positif itu seolah di luar jangkauan. Hanya sedikit yang tahu. Dan merasa aman-aman saja kalau sudah pakai masker atau cuci tangan. Apalagi ditambah hampir semua komplek sudah membuat blokade. Jadi makin percaya diri.

Kebetulan tadi siang saya ketemu teman yang tinggal di Pekayon. Ia sepertinya baru saja selesai sholat dzuhur berjemaah di masjid. Kami ngobrol sebentar di gazebo RT. Ngobrolin pekerjaan dan sedikit PSBB.

“Terus apa setelah 14 hari (PSBB)?” tanya teman saya, terlihat pesimis. “Apa virusnya bisa berkurang?”

“Nggak ada jaminan,” jawab saya. Apalagi setelah melihat suasana Bekasi yang masih ramai itu. Saya pikir, justru PSBB malah akan menambah warga yang positif. …. Positif tidak punya uang.

<>

Tinggalkan Balasan