Cerita Medrep

  • Ali 
medical-representative

Kurang sreg rasanya menulis tentang Covid tanpa cerita pekerjaan masa lalu itu. Apalagi kemarin sore saya lihat di TV, di konfrensi pers dengan BNPB itu, ada ada salah satu direktur Dexa Medica menyerahkan bantuan untuk penanganan pandemik Covid-19.

Dexa Medica itu tempat kerja pertama saya sebagai medrep (Medical Representative). Dua belas tahun lalu. Tepatnya tanggal 25 April 2008.

Kerja di Dexa itu seperti doa yang terjawab. Jauh sebelumnya, waktu masih kerja di Asuransi Sinar Mas, saya pernah berharap bisa kerja dekat rumah.

Kantor Dexa di Bekasi memang sangat dekat. Di ruko seberang RS Mitra Bekasi Barat itu. Bisa ke kantor jalan kaki. Tapi etikanya saya tetap harus naik motor, mengingat medrep itu dikasih uang sewa motor. Juga uang bensin.

Saya tahu dikit tentang medrep dari teman. Yang katanya kerjanya santai dan bisa tidur siang di kos-an. Tapi saya tahu lebih banyak dari dokter kandungan di klinik Medika Sempurna di Galaxy itu. Yang juga pernah jadi medrep. Di tahun 70-an.

Klinik itu sekarang sudah jadi mini market. Sedangkan kliniknya pindah ke ruko apotek di seberangnya. Di Apotik Galaxy itu. Semua dokter yang praktek di sana sudah tua, yang rata-rata usianya 60-70 tahun. Itu dua belas tahun lalu. Saya belum pernah ketemu lagi. Satu pun. Juga para perawatnya.

Dulu, kata dokter kandungan itu, medrep bukan profesi sembarangan. Harus lulusan S1 Farmasi atau MIPA. Terlebih kalau kerja di PMA, harus bisa bahasa Inggris. Medrep jaman itu tidak naik motor, tapi naik skuter. Katanya, skuter beda sama motor. Naik skuter itu kelihatan anggun, selaras dengan cara berpakaiannya yang ala eksekutif, pakai dasi.

“Jaman saya detailer nggak dikejar target sales,” lanjutnya. Suaranya agak ngebas dan berirama ala Manado. “Kamu tahu, detailer itu pengganti promosi obat OTC.”

Detailer itu nama lain medrep. Di Pfizer medrep disebut HCR (Health Care Representative).

OTC itu singkatan dari Over The Counter alias obat bebas yang dijual di apotik dan toko. OTC bukan obat resep dokter. Contohnya Paramex. Sementara obat yang dibawa medrep itu obat resep dokter. Tidak dijual bebas. Contohnya Viagra. Ups. Contoh lain lagi Norvask. Obat darah tinggi itu.

Untuk menjelaskan obat yang dibawa, seorang medrep dilengkapi brosur. Brosur itu senjatanya medrep. Di dalamnya ada grafik, hasil studi, uji klinis, dan keterangan lain yang kebanyakan pakai bahasa Inggris.

Cara presentasinya juga pakai etika. Misalnya, tidak nunjuk brosur pakai jari. Itu tidak sopan. Nanti kelihatan kotoran kukunya. Jadi harus menunjuk pakai pulpen. Kalau dokter tertarik dan yakin, maka dokter tersebut akan meresepkannya buat pasien. Pasien akan menebusnya di apotik. Apotik lalu membeli obat itu ke distributor perusahaan farmasi itu.

Penjualan dari distributor itulah yang sekarang jadi target salesnya medrep. Kalau masuk target, maka si medrep akan dapat insentif.

Insentif di tiap perusahaan farmasi beda-beda. Ada yang dalam bentuk presentase. Ada yang nominal.

Karena target sales itu penting, medrep wajib mengunjungi setidaknya 10 dokter per hari. Plus kunjungan 5 apotik per hari. Sebagai bukti kunjungan, medrep dibekali kartu kunjungan. Namanya kartu call. Kartu tersebut harus ditandatangani dokter dan dicap stempel apotik. Di beberapa perusahaan farmasi, ada insentif buat yang bisa mencapai target kunjungan itu. Jadi, nggak aneh kalau ada medrep minta dua tandatangan dokter.

Apakah saya juga termasuk?

<>

Tinggalkan Balasan