Masih Adakah Cinta Sejati?

  • Ali 
burung-bulbul-dan-mawar-merah

Sebuah kisah Burung Bulbul dan Mawar Merah karya Oscar Wilde

Bunga Mawar dan Burung Bulbul satu dari sembilan cerpen dalam buku Pangeran yang Bahagia. Meskipun bercerita tentang fabel, Bunga Mawar dan Burung Bulbul bukanlah dongeng untuk anak kecil. Untuk adegan tertentu cerpen ini cukup sadis. Dan bukan cuma itu. Akhir ceritanya pun sangat miris. Tidak happy ending sebagaimana kisah cinta versi Disney.

Dikisahkan seorang pelajar terlihat sedang menggerutu. Ia membutuhkan sekuntum mawar merah untuk dihadiahkan kepada putri profesor di sebuah acara dansa. Karena dengan itu ia akan mendapatkan cinta dari gadis pujaannya. Tapi ia tidak punya mawar merah di kebunnya. Dan kalau tidak ada bunga mawar merah, maka hidupnya akan berantakan. Ia akan kehilangan cinta sejatinya.

Mendengar keluh kesah sang pelajar, burung bulbul merasa tersentuh. Dalam hati ia berkata: “Rupanya masih ada orang yang memiliki cinta sejati.” Ia berjanji pada dirinya sendiri ia akan mencarikan mawar merah untuk pelajar itu.

Burung bulbul mengabarkan berita gembira itu kepada kupu-kupu, bunga matahari dan seekor kadal hijau. Tapi mereka tidak seperti burung bulbul.

“Hanya karena setangkai bunga mawar merah?” mereka semua terkejut. “Aneh sekali,” dan kadal kecil, yang suka mengejek itu, tertawa keras-keras.

Burung bulbul tidak peduli apa kata mereka. Ia mengepakkan sayap coklatnya lalu terbang mencari bunga mawar merah untuk si pelajar.

Ia singgah di tempat pohon mawar tumbuh dan bertanya padanya. Tapi pohon itu tidak memiliki bunga berwarna merah. Ia bertanya lagi pada pohon mawar yang lain namun pohon itu juga tidak memilikinya. Sampai akhirnya ia bertemu pohon mawar kuning, yang memberitahunya tentang keberadaan saudaranya, si pohon mawar merah itu. Burung bulbul tidak menyangka, bahwa yang dicari-carinya selama ini tumbuh tepat di bawah jendela rumah si pelajar. Bersegeralah ia terbang menghampiri pohon mawar merah itu.

Burung bulbul meminta dengan sopan supaya pohon itu memberikannya setangkai saja. Namun, bukan bermaksud menolak, warna mawar milik pohon itu tidak semerah seperti yang diinginkan burung bulbul. Pohon mawar merah menjelaskan:

“Musim dingin membuat nadiku menjadi beku, bunga es menggigit kuncupku, badai mematahkan cabang-cabangku, dan aku tidak akan punya setangkai mawar pun sepanjang tahun ini.”

Burung bulbul memang kecewa, namun ia bersikeras meminta bagaimana ia bisa mendapatkannya.

“Aku hanya ingin setangkai saja,” kata si burung bulbul. “Hanya satu tangkai saja! Tidakkah ada cara untuk mendapatkannya?”

“Ada,” jawab pohon mawar merah.

Jawaban itu cukup melegakannya.

Tapi ada tapinya. Syaratnya berat. Sangat berat. Bahkan untuk seekor burung sekalipun. Inilah bagian yang saya bilang bukan untuk anak-anak.

“Jika kau menginginkan bunga mawar merah,” kata Pohon itu, “kau harus membuatnya sendiri dengan suara musik di bawah sinar bulan, dan kau harus melumurinya dengan darah yang berasal dari hatimu. Kau harus bernyanyi untukku sambil menusukkan durinya ke dalam dadamu. Sepanjang malam kau harus bernyanyi dan duri itu harus membelah hatimu sehingga darah itu menalir ke nadiku, dan menjadi milikku.”

Itulah syaratnya. Burung bulbul harus mengorbankan nyawanya demi setangkai mawar merah. Apakah itu harga yang pantas?

Burung bulbul tahu bahwa kehidupan itu lebih penting daripada setangkai mawar merah. Tapi ia menganggap bahwa cinta itu lebih baik dari kehidupan.

“Apalah artinya hati seekor burung dibandingkan dengan hati manusia?” kata burung bulbul.

Burung bulbul-lah yang seharusnya disebuat pecinta sejati. Ia mencintai tanpa syarat. Bahkan ia mencintai orang yang tidak pernah dikenalnya. Ia pun mulai bernyanyi, ditusukkanya duri mawar ke dalam hatinya. Darahnya mulai membasahi tangkai mawar merah. Siapapun yang mendengar nyanyiannya pasti akan merasa pilu.

Dan sampai di situlah akhir hidup burung bulbul. Ia mati demi cinta sejati. Nyawanya tergantikan sekuntum mawar merah yang indah.

Tapi itu bukanlah akhir cerita. Seperti saya bilang, kisah ini bukan cerita Disney dengan happy ending.

Ironis. Pengorbanan burung bulbul tidak berbuah cinta sejati.

Seperti itulah kenyataannya. Tidak ada yang menyalahkan sang putri profesor menolak pemberian mawar merah sang pelajar. Ia hanya bersikap realistis. Tentu saja, semua orang tahu bahwa permata lebih berharga dari sekuntum bunga mawar merah. Seperti yang diberikan keponakan Pak Chamberlain padanya.

Di sisi lain sang pelajar seorang yang idealis merasa marah dan kecewa. Pandangannya berubah tentang cinta. Tidak ada lagi yang namanya cinta sejati. Dan bodohlah orang yang mempercayainya! Kemudian pelajar itu mencampakkan bunga itu ke jalan. Bunga itu jatuh ke dalam lumpur, dan sebuah roda kereta melindasnya. Sang pelajar kembali ke kamarnya dan kembali berkutat dengan buku-bukunya.

Tinggalkan Balasan