Kenapa (Masih) Baca Buku Cetak?

  • Ali 

Coba jalan-jalan ke Gramedia Mal Metropolitan (MM) di akhir pekan. Antrian kasirnya sangat panjang. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak remaja. Sebagian besarnya lagi lebih sering berada di rak buku fiksi.

Untuk itu Gramedia menyiapkan pramuniaga yang masih muda. Berpakaian santai dan siap membantu mencarikan buku. Mereka juga dilengkapi dengan tablet, yang terhubung ke database toko online-nya. Sehingga, ketika tidak menemukan buku di toko, bisa dipesan lewat toko online tersebut.

Mungkin terdengar absurd ketika yang jadi contoh kok Gramedia MM. Tengok saja Gramedia Mega Mal Bekasi atau Toko Gunung Agung di BCP yang relatif sepi pengunjung.

Nggak salah sih. Itu karena MM letaknya strategis dan tenant-nya sangat lengkap. Sama halnya membandingkan toko pakaian Matahari di MM dengan Matahari di mal lain di Bekasi. Matahari di MM sangat ramai. Konon paling ramai se-Indonesia!

Meski begitu, kalaupun semua pengunjung Gramedia MM tersebar ke Gramedia Mega Mal Bekasi dan Gunung Agung BCP, peminat buku cetak masih juga banyak.

Sebenarnya kita sama-sama paham kenapa masih membeli dan membaca buku cetak ketimbang buku digital (ebook). Meskipun ebook lebih praktis dan tidak mudah rusak.

Disadari atau tidak, kita akui buku cetak itu pajangan paling bagus. Seperti peribahasa bilang: “Buku itu memang bukan untuk dipajang. Tapi tidak ada pajangan yang lebih bagus dari buku.” Bahkan pajangan itu pun dipakai sebagai background foto wisuda.

Buku juga jadi koleksi bagus ketika benda lain, semisal perangko sudah jarang peminatnya. Tidak seperti perangko yang fungsinya hanya koleksi, buku masih berfungsi sebagaimana mestinya. Sementara ebook. Rasa-rasanya masih sulit untuk dijadikan koleksi.

Kita juga senang memegang buku. Membolak-balik halamannya. Mencium baunya. Memperlihatkannya. Meminjamkannya. Menunjukan kalimat spesial pada seseorang. Memfotonya. Menyukai pembatas bukunya. Menumpuknya. Menaruhnya di rak dan merapihkannya. Mengantri tandan tangan penulisnya.

Membaca buku cetak mengurangi distraksi atau pengalihan fokus. Juga lebih mudah diingat. Para penghapal Al-Qur’an bahkan ingat letak halaman ayatnya. Di bagian bawah, tengah atau atas. Contohnya Ustadz Adi Hidayat. Yang bukan hanya Al-Qur’an dihapalnya, tapi juga hadist dan buku-buku lain.

Namun sekarang permasalahannya adalah, apakah keunggulan itu diikuti dengan minat baca kita?

Tinggalkan Balasan