Kemana Prabowo Pergi?

Usia Prabowo sama dengan usia ayah saya, hanya beda beberapa bulan. Keduanya hampir berusia 70 tahun, usia yang secara fisik sudah mengalami penurunan. Tapi tidak dengan pikiran. Seharusnya.

Pikiran tidak dipengaruhi usia. Tidak semua orang tua pelupa, sama halnya tidak semua anak muda tidak pelupa. Bukankah peraih nobel kebanyakan sudah berusia lanjut?

Yang membedakan hanya cara berpikir.

Beberapa hari belakangan kita disuguhkan dua tontonan dua tokoh. Pertama, Megawati, yang menolak berjabat tangan dengan Surya Paloh dan AHY. Lalu ada Prabowo, yang untuk kedua kalinya bertemu dengan Jokowi, dan setelah itu membesuk Wiranto.

Prabowo sudah mengambil jalannya sejak bertemu Jokowi di MRT pasca pemilu lalu. Tidak ada lagi rivalitas. Prabowo mendukung kebijakan pemerintah alias tidak akan jadi oposisi. Beliau bilang tidak ada yang namanya oposisi di Indonesia.

Dari dua peristiwa tersebut, pembaca bisa memilih mana lebih berpikir dewasa: Prabowo atau Megawati?

Sebenarnya Prabowo bisa saja mengikuti keinginan sebagian besar pemilihnya. Menjadi oposisi, seperti yang diputuskan PKS dan mungkin PAN. Namun beliau harus menempatkan dirinya di tengah-tengah rakyat yang memilihnya, rekan koalisi, Jokowi, pendukung Jokowi, dan tentu saja Gubernur Jakarta, Anies Baswedan.

Kenapa Anies Baswedan?

Anies Baswedan, meskipun didukung Gerindra dan PKS, berada di posisi yang sama dengan Prabowo saat ini. Anies harus menjadi Gubernur setiap warga Jakarta. Jakarta adalah miniatur Indonesia. Provinsi dengan multi suku, ras dan agama. Bayangkan, seandainya Anies Baswedan hanya menjadi Gubernur para pemilihnya, bukan mustahil akan selalu ada ‘perang’ panjang kampret vs kecebong. Tapi lihatlah sekarang. Perlahan-lahan Jakarta mulai bersatu. Meskipun masih ada gesekan, jumlahnya tidak banyak dan berlarut-larut.

Saya pikir, dukungan Prabowo kepada pemerintah lebih karena Jokowi tidak seperti Anies Baswedan, yang bisa menempatkan diri sebagai pemimpin rakyat yang multi keberagaman. Sampai saat ini Jokowi masih berlabel presiden untuk para relawan. Di samping itu, kebijakan sembrono Jokowi sulit dilawan dari luar. Demonstrasi besar-besaran, kritik di sosial media atau diskusi di TV tidak akan menggoyahkan pemerintahan Jokowi. Kecuali dengan revolusi. Harus ada orang dalam, dan Prabowo paham itu. Terutama untuk memengaruhi kebijakan ekonomi dan keamanan nasional. Biarlah Jokowi dengan segala pencitraannya. Selfi sana, selfi sini. Itu urusannya. Toh, ujung-ujungnya Jokowi oke-oke saja sama kebijakan menterinya.

Itulah jalan Prabowo, yang seharusnya diambil untuk orang di usianya. Prabowo memilih tidak membenci siapapun. Kunjungan beliau untuk menjenguk Wiranto menegaskan posisi beliau. Bahkan jauh sebelum itu beliau juga menyambut undangan Megawati bersantap nasi goreng. Jarang sekali di negeri ini sosok yang bisa menerima kekalahan sekaligus merangkul mantan rivalnya. Jarang sekali negeri ini sosok yang mau menerima undangan makan setelah berulang kali dikhianati. Saya hanya tahu Hamka pernah melakukannya, saat beliau menjadi imam sholat jenazah Soekarno, orang yang pernah memenjarakan dirinya.

Seperti kata pepatah, menjadi bijak adalah pilihan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *