Joker (2019): Idola Yang Mematikan

review-film-joker

Sejak kemunculannya di The Dark Knight, Joker menjadi idola baru. Bahkan melebihi sang jagoan: Batman. Tawanya sering ditiru. Posternya terpampang di berbagai media sosial. Orang-orang lebih bersimpati ketika Heath Ledger, sang pemeran Joker, mati mengenaskan. Ada yang bilang Ledger terlalu mendalami perannya. Seperti yang pernah dibilang Jack Nicholson, pemeran Joker di film Batman (1989): “Saya sudah peringatkan dia.” Tapi saudari Ledger sudah membantahnya.

Sama halnya dengan Joker (The Dark Knight, 2008), Joker (2019) menjadi idola baru setelah gagal dalam Suicide Squad. Poster Joker (2019) sudah terpampang di media sosial jauh sebelum filmnya tayang. Sama ikoniknya dengan 2008. Hanya kali ini tanpa Batman.

Joker (The Dark Knight, 2008)

Joker (2019) memang lebih sedikit membunuh ketimbang Joker (2008), tapi gairah membunuhnya bisa memengaruhi penonton untuk melakukan hal yang sama. Ditambah kondisi sebagian besar kota-kota di dunia saat ini yang memiliki masalah yang sama Kota Gotham. Seperti sampah dan jurang sosial antara orang kaya dengan orang miskin. Juga dari individu Joker yang lemah, terpinggirkan dari masyarakat. Yang kemudian bisa bangkit dan percaya diri setelah membunuh tiga orang di kereta bawah tanah.

Bukan tidak mungkin ada penonton yang memiliki latar belakang seperti Arthur Fleck, nama asli Joker, akan berkata: “Saya ingin menjadi seperti dia.”

Penembakan yang terjadi pada pemutaran perdana The Dark Knight Rises di Gedung Auora Juli 2012 lalu awalnya terinspirasi dari Joker. Namun sudah disanggah. Penembakan itu tidak ada hubungannya dengan Joker. Meski begitu keluarga korban cemas kejadian itu bisa terulang. Amerika punya sejarah kelam penembakan massal.

* * *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *