Habibie

Habibie itu seperti windows di komputer. Namanya ada di setiap nasehat orang tua.

“Belajar yang rajin. Supaya pintar kayak Pak Habibie.”

Jaman itu saya tidak terlalu tahu reputasi Pak Habibie. Hanya tahu beliau seorang menristek.

Di SMP, saya sering mengartikan singkatan nama depan Habibie, B.J, sebagai Billy Joe. Atau B.J seperti tokoh dalam film B.J and The Bear.

Pak Hendi, Guru Bahasa Inggris saya di STM yang juga pelatih bola pernah cerita tentang Habibie. Ceritanya tidak ada hubungan dengan pesawat atau ICMI. Ini tentang kebugarannya. Supaya dijadikan contoh. Di usia 60-an Pak Habibie suka berenang. Waktu itu Pak Habibie baru saja operasi jantung. Mungkin saya salah tangkap. Bahwa jantung Pak Habibie diganti dengan jantung artifisial. Terbuat dari besi atau robot. Yang bisa bertahan ratusan tahun. Ada foto Pak Habibie di koran. Kalau tidak salah di Tabloid bola. Beliau bertelanjang dada di pinggir kolam renang sedang mengangkat kedua tangan seperti seorang binaragawan.

Cerita selanjutnya, tentu saja berhubungan dengan IPTN dan pesawat N-250. Di pertengahan tahun 90-an itu. Yang disiarkan langsung di TV. Dan juga cerita pesawatnya ditukar dengan ketan. Saya banyak dengar hal positif  tentang Habibie. Tapi prestasi Habibie kalah oleh desakan segelintir orang yang menginginkan beliau mundur dari kursi Presiden. Apalagi ditambah dengan kisah pisahnya Timor Timur dari Indonesia. Habibie hanya jadi presiden transisi. Disorakin di sidang MPR. Laporannya ditolak. Padahal, saya dan hampir semua orang bisa bayangkan Indonesia jauh lebih maju seandainya Habibie menjabat Presiden lebih lama.

Nama Habibie seolah terus mengikuti jaman. Di awal tahun 2000-an, saya lagi senang-senangnya dengan yang berbau Jerman. Bermimpi bisa sekolah di sana. Di tahun itu juga ada Techno Germa (tolong dikoreksi namanya) di JCC. Saya datang ke sana. Mengumpulkan majalah dan brosur tentang Jerman. Terutama kampus-kampusnya. Dari situ saya juga tahu kampus Habibie. Di Universitas Aachen. Sayangnya, saya tidak pernah kuliah di Jerman.

Di rohis kampus dan pengajian remaja masjid juga demikian. Ustadz selalu bilang Iptek dan Imtaq. Yang ternyata itu ide dari Habibie.

Berlanjut ke masa-masa dewasa juga nama Habibie berkaitan. Dalam diskusi kecil dengan teman atau tetangga. Apalagi di tahun 2000-an nama Habibie muncul lagi. Ketika terbit buku “Detik-Detik Yang Menentukan.” Tentang pengalaman beliau selama menjabat presiden. Saya dan teman sempat berdiskusi mengenai buku tersebut. Lalu disusul buku Habibie dan Ainun. Habibie juga sering hadir di acara TV. Terakhir saya lihat di ILC. Saya sangat memerhatikan itu.

Kalau Habibie pernah berujar teknologi pesawat N-250 dipersiapkan untuk 30 tahun ke depan. Nama Habibie akan melampaui itu. Habibie sudah dipersiapkan untuk 100 tahun ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *