Dulu

  • Ali 

Dulu. Ya … dulu. Kata dulu sering kali jadi kata pamungkas menunjuk kejayaan di masa lalu.

Dulu Ayah … begitulah kebanyakan orang tua memulai cerita nasehat pada anaknya.

Dan dengan terpaksa … saya juga memulai tulisan ini dengan kata itu.

* *

Dulu … saya kuat lari sepuluh putaran stadion sepak bola. Bukan lari di pinggir lapangannya. Tapi di luar stadion. Jadi jaraknya lebih jauh. Satu putarannya sekitar 800m. Itu di stadion Patriot di GOR Bekasi. Sebelum dibangun ulang tahun 2012 itu.

Saya masih ingat bentuk aslinya. Dinding temboknya rendah dan penuh coretan. Gampang dipanjat dengan tali. Pohon-pohon tinggi di sekeliling stadion jadi tempat nonton bola. Papan skornya manual. Ada orang di dalam papan yang mengganti skor. Saya pernah naik ke sana. Bangku tribunnya terbuat dari tembok dan kayu. Tiang-tiang penyangga atap menghalangi pandangan. Bangku kelas tiga full tembok. Di beberapa bagian ditumbuhi pohon akasia.

Tapi saya lebih sering lari di putaran Tugu Pahlawan Karawang-Bekasi. Yang jarak satu putarannya 500m. Di sana saya biasa lari sampai sepuluh putaran juga. Pernah sampai lima belas.

Di usia itu, secara fisik, saya memang sedang dalam masa jaya-jayanya. Badan ramping, nafas panjang, perut six pack.

Tapi tidak selamanya kata dulu menunjuk masa kejayaan. Jauh sebelum itu, tepatnya masa-masa awal SD, saya bahkan tidak bisa menyelesaikan lari dua putaran di stadion bola itu. Kaki terasa panas. Dada juga sesak.

Saya ingat waktu tetangga saya, Om Rustam, mengajak saya lari di putaran Tugu itu. Waktu itu harusnya saya tidak kuat. Tapi Om Rustam memaksa.

“Ayo Li. Satu Putaran lagi!” serunya setelah satu putaran.

Saya diam saja dan terus berlari di sampingnya.

“Ayo, Li. Satu putaran lagi!” katanya lagi setelah putaran kedua. Kepala saya sudah mulai panas. Om Rustam menyemangati lagi di putaran berikutnya hingga akhirnya kami berhenti. “Wah, hebat. Kamu bisa lari lima putaran.”

Apa?! Lima? Tentu saja saya tidak menyangka. Rasanya ingin membanggakan diri.

Sebenarnya untuk laki-laki bertinggi 168 cm, berat saya masih cukup ideal. Berat saya 75kg. Hanya perut yang terlihat seperti ibu-ibu hamil. Meski begitu saya tidak terlalu ingin memundurkan perut. Katanya, cewek-cewek suka laki-laki yang buncit. Dan ubanan. Beruntung, saya punya keduanya.

Satu minggu belakangan ini saya mulai lari lagi. Itu langkah yang berani. Sangat berani. Apalagi saya terbiasa tidur habis sholat subuh.

Tapi ini demi kesehatan. Sekali lagi. Ini demi kesehatan. Di samping saya tidak mau menyia-nyiakan sepatu lari yang baru saya beli.

Lari juga siasat saya supaya tetap bisa makan enak. Ditambah push-up, scout jump dan gerakan lain. Sampai benar-benar berkeringat. Bisa jadi semacam alternatif buat saya yang sulit ikut anjuran makan sehat ala Dr. Zaidul Akbar.

Sudah dua hari ini saya bisa lari 500m non-stop. Masih di putaran Tugu Karawang-Bekasi. Ditambah jalan kaki beberapa putaran.

Saya menikmati lari di sana. Tempatnya sejuk dan sepi. Kontras dengan jalan utama di luar, yang sangat sibuk dan bising. Untungnya pohon-pohon rimbun nan tinggi bisa meredam suaranya.

Di seputaran jalan tugu memang banyak pohon-pohon. Tidak terlalu tinggi. Di musim hujan ini, bunga-bunga putih berjatuhan.

Pohon-pohon rindang dengan sulur-sulur panjang menjuntai tumbuh di pinggiran plaza. Sangat teduh. Juga ada pohon-pohon palem yang usianya sudah puluhan tahun. Plaza itu berada tepat di tengah putaran jalan. Di belakang Tugu Karawang-Bekasi dan air mancur.

Plaza-Tugu-Karawang-Bekasi
Plaza Tugu

Di seberang plaza, ratusan pohon tinggi tumbuh menyerupai hutan. Itu pohon jati. Daun-daun yang jatuh ke tanah dibiarkan menjadi humus. Total ada ribuan pohon dari ratusan jenis di GOR Bekasi. Tempat itu juga disebut Hutan Kota Bekasi yang juga berfungsi sebagai Bumi Perkemahan Pramuka.

Beberapa tahun lalu masih banyak orang tua dan pensiunan jalan kaki di situ. Mereka jalan kaki berkelompok dua sampai lima orang. Yang biasanya datang setelah sholat subuh. Tapi kini hanya terlihat beberapa saja. Mungkin karena sekarang lagi musim hujan.

Seputaran Tugu juga jadi lebih berwarna. Banyak spot sudah dimodifikasi. Ada trek jalan kaki di sela-sela pepohonan. Ada juga jalan setapak refleksi di taman bermain.

Kalau Anda start lari dari arah Stadion Patriot, sebelum mencapai setengah putaran, di dekat tikungan jalan raya menuju Jendral Sudirman, Anda akan mendengar sayup-sayup suara wanita. Suaranya merdu dan diucapkan berulang-ulang. Asal suara itu tepatnya dari bawah fly over Summarecon. Coba perhatikan baik-baik. Anda pasti kenal suara itu. Malahan mungkin Anda hapal apa yang diucapkannya.

Begini bunyinya:

“Perhatian-perhatian! Para pengemudi yang terhormat, selamat datang di area RHK …”

<>

Tinggalkan Balasan