Coba-Coba Berobat

  • Ali 
pengobatan-alternatif

Jadi follower-nya dokter di twitter itu sangat bermanfaat. Saya dapat banyak masukan seputar kesehatan. Apalagi saat pandemi Covid-19 sekarang ini. Mulai dari nasehat yang umum seperti physical distancing, berjemur pagi hari setelah jam 10, perbanyak makan sayur dan buah, istirahat cukup sampai yang lebih spesifik seperti mengkosumsi zinc.

Sembilan tahun lalu ketika saya ketahuan sakit paru (efusi pleura), saya dapat banyak masukan dari orang-orang terdekat. Meskipun bukan dokter, saya anggap mereka lebih tahu dan lebih berpengalaman. Saya ikuti saran mereka minum ini-itu atau pergi ke tempat pengobatan ini-itu. Untungnya saya disponsori (dibayari) buat beli obat atau pergi ke tempat pengobatan alternatif. Jadi saya nggak rugi-rugi amat.

Saya pernah disarankan minum sekoteng tiap malam. Tiap malam saya dan orang rumah nunggu tukang sekoteng lewat. Sama seperti obat paru, minum sekoteng tidak boleh putus. Harus diminum tiap malam. Kalau ingat masa itu sih jadi senyum-senyum sendiri. Orang bisa jadi bodoh karena sakit. Tapi saya coba berpikir positig. Saya bisa ikut bantu larisin dagangan tukang sekoteng.

Saya juga pergi ke tempat bekam. Dibayari. Tetangga saya yang rekomendasiin.

Bekam itu baik. Itu sunnah Rosul. Tapi yang ini bukan bekam biasa. Bekamnya tidak pakai alat vakum dan jarumnya. Tapi menggunakan silet dan tanduk kerbau. Tempat bekam itu konon pernah diliput RCTI. Tidak sembarang orang bisa jadi terapis bekam dengan metode ini. Latihannya juga tidak sembarangan. Terapis saya bilang ia harus bisa menyayat daun pisang tanpa merobeknya. Sayatannya pun sangat tipis. Di kulit terluar. Butuh waktu lama sampai benar-benar mahir. Dua atau tiga hari sekali saya pergi ke sana. Tiap selesai bekam, saya dibekali ramuan jamu. Bekas bekamnya masih ada sampai sekarang. Bentuknya seperti habis dicakar kucing.

Ada tempat bekam lain yang saya kunjungi. Di Pondok Gede. Saya dibayari tetangga. Sekalian yang bayari saya itu ikut berobat di sana. Bekamnya biasa, pakai vakum dan jarum. Hanya kali ini sambil duduk. Saya hampir pingsan pas divakum. Terapisnya berkelakar: “Nenek-nenek aja kuat. Masa yang muda kalah.”  Lalu saya diberi teh manis sebelum lanjut bekam.

Sebetulnya, sebelum menjalani pengobatan alternatif itu saya sudah ke dokter. Paru saya juga sudah dirontgen. Hasilnya: paru kanan saya dipenuhi air sedangkan paru kiri saya penuh setengahnya. Dokter bilang cuma satu solusinya: air di dalam paru saya harus dikeluarkan. Tapi membayangkan jarum menembus paru saya rasanya sakit sekali. Jadinya saya terima saran minum sekoteng itu.

Saya juga berobat ke Ciawi. Diajak om saya yang berobat ke situ juga. Di pengobatan H. Erna itu, yang antrian pasiennya panjang itu. Entah bagaimana kami bisa melewati antrian itu. Di dalam ruangan itu H. Erna memijat saya, menganalisa penyakitnya. Sambil memijat kaki, ia menyebut angka-angka tekanan darah, gula, kolesterol, TG, dsb. Ia bilang paru saya bermasalah, gula saya tinggi. Saya percaya saja. Setelah itu saya disarankan minum rebusan bubuk bekatul.

Om saya yang lain mengajak saya terapi ke daerah Bekasi Timur. Tepatnya di Margahayu. Hari Jum’at pagi itu. Nama tempatnya Terapi Air Akar Kang Eem. Kang Eem orang Kuningan, sudah sering muncul di TV. Tempat prakteknya banyak. Cara pengobatannya dengan air akar. Yang konon diambil dari hutan. Bentuknya bening seperti air biasa, yang dikemas dalam botol plastik satu liter. Tapi yang menerapi saya bukan Kang Eem-nya langsung. Yang saya ingat ia orangnya tidak banyak bicara. Ia menggosok-gosok telapak tangan lalu meletakkannya di atas punggung saya dan menggerakkannya dari bawah ke atas. Tanpa menyentuh.

Di luar pengobatan itu, ada seorang tetangga yang berbaik hati membayari tukang pijat buat saya. Untuk membantu saya lebih rileks. Tukang pijatnya datang tiap sore bersamaan dengan diputarnya drama Korea di Indosiar. Yang judulnya You Are My Destiny itu. Saya lupa nama tukang pijatnya. Tapi ia bilang pernah tinggal di belakang RS. Mitra Keluarga. Saya juga pernah sekali datang ke tempatnya di Perumnas 1. Si Bapak itu memijat refleksi seluruh tubuh saya. Terutama bagian kaki yang bikin saya kesakitan setengah mati. Tapi sesudah itu saya jadi merasa enakan.

Pada akhirnya, setelah melalui berbagai pengobatan tradisional itu saya pergi ke RS. Persahabatan. Tidak ada pilihan lain lagi. Biaya pengobatan alternatif ternyata lebih mahal dari medis, dan lagipula saya tidak disponsori lagi.

Tapi pengobatan medis tidak selancar yang saya bayangkan. Hari-hari berat saya malah dimulai dari situ. Mungkin akan saya ceritain kapan-kapan.

<>

Tinggalkan Balasan