Bekasi Emang Top

  • Ali 

Banjir lagi.

Lagi-lagi Bekasi banjir.

Belum juga tiga bulan sejak banjir 1 Januari lalu.

Hujan turun tiga hari berturut-turut. Kadang hujan deras. Habis itu berhenti. Kadang hujan ringan. Berhenti lagi. Kadang cuma mendung. Begitu terus selama tiga hari itu.

Malam Selasa itu hujannya tidak keruan. Deras dan non-stop. Sama seperti malam tahun baru itu. Cerita selanjutnya juga hampir mirip. Paginya air mulai datang dari kali ke wilayah RT 001 dan sekitarnya. Beberapa tetangga sudah mengungsi ke masjid.

Belum jam 7, air sudah menggenangi jalanan depan rumah. Masih jernih.

Menjelang siang air semakin tinggi dan kecoklatan. Listrik padam jam 8.00. Untungnya air tidak ikutan mati. Baterai hape di posisi 40%. Untungnya masih bisa ngecas di laptop. Jam 11 saya pergi ke BCP untuk ngecas. Untuk nulis artikel ini.

banjir-bekasi-2020
Awal banjir. Air masih jernih. Mirip di Jepang

Alhamdulillah. Sebelum ashar air sudah mulai surut. Banjir tidak sampai masuk rumah. Hanya nyaris.

Tapi ceritanya lebih seru di twitter. Sekedar iseng saya ikut komentarin banjir di Jakarta. Lalu membandingkan dengan banjir di Bekasi.

Saya bilang:

Orang Bekasi kalau kebanjiran: astagfirullah. Innalillah. Semoga cepat surut.

Kalau di Jakarta banjir: kadrun! wibon! wan abud!

Bekasi TOP!

Bekasi emang top. Kata itu memang cocok buat warga Bekasi. Juga Jawa Barat.

Saya memang tidak memilih Pepen atau Ridwan Kamil di Pilkada lalu. Jagoan saya kalah. Tapi Bekasi maupun Jawa Barat emang top. Warga yang pilihannya kalah langsung move on. Menang-kalah itu biasa. Tidak ada caci-maki. Apalagi bully. Pilkada itu hari buat senang-senang. Setelah Pilkada juga harus senang. Memang ada kritik atau sindiran. Tapi tanpa menghina dan berlarut-larut.

Beda dengan sebagian (kecil) warga Jakarta. Yang jagoannya kalah di Pilgub masih belum move on. Masih senang menghina. Masih senang bully. Semua kesalahan Gubernur-nya dilepeh di medos. Dicari-cari terus. Diungkit-ungkit terus. Dengki. Entah sampai kapan berakhir. Seperti tidak akan pernah habis. Padahal kritik tanpa menghina itu bisa. Sangat bisa.

Tag:

Tinggalkan Balasan