Banjir 2020

  • Ali 

Ilham tanya saya, “Lebih parah banjir sekarang atau tahun 2007?”

Ilham adik ipar Irman, marbot sekaligus imam masjid. Kami baru saja sholat ashar. Sore itu banjir sudah masuk rumah, tingginya baru sedikit di atas mata kaki. Karena rumah saya baru direnovasi dan lantainya ditinggiin 30 cm, maka saya jawab:

“Sama aja sih.”

Tapi kenyataannya banjir kemarin lebih parah.

Sehari sebelumnya hujan sudah turun sejak sore. Rencana mau nonton The Grudge di malam tahun baru harus ditunda.

Lewat tengah malam hujan turun semakin deras. Deru angin terasa dari hawa dinginnya. Saya terbangun hanya untuk matikan kipas angin.

Hujan masih turun waktu subuh. Paginya, jalan depan rumah sudah mulai tergenang namun masih jauh dari masuk ke dalam rumah. Tidak ada rasa cemas air akan masuk ke rumah. Pun begitu ketika tetangga di RT 001 mengungsi ke rumah saya karena rumahnya sudah kebanjiran sejak subuh.

Jam 9 pagi, listrik dan air sudah mati. Air yang sedikit itu dihemat untuk cebok buang air kecil. Beruntung masjid punya toren yang masih menampung air buat wudhu untuk sholat dzuhur. Tetangga yang mengungsi tadi memutuskan tinggal di hotel.

Keran masjid baru benar-benar kering waktu ashar. Saya berwudhu dengan secangkir air galon. Dan ajaibnya: cukup. Mungkin seperti itu seharusnya takaran air untuk wudhu.

Air semakin naik, menjelang maghrib keran PDAM mulai mengalir lagi. Ayah, Ibu dan Adik saya masih belum mengungsi. Ukuran mengungsi tentu saja level banjir. Banjir masih di bawah betis, itu artinya masih aman dan bisa tidur di rumah. Tapi untuk jaga-jaga, kami mengangkat barang-barang ke tempat yang lebih tinggi. Terutama kulkas dan mesin cuci.

Ada satu hiburan di tengah keterbatasan: membaca timeline twitter. Yang ramai banget. Perang antara Pro-Anies dan Kontra Anies. Antara cara mengatasi banjir dengan naturalisasi atau normalisasi. Yang seterusnya merembet ke hal-hal lain. Terlalu banyak.

Jam 20.00 baterai hp tinggal 15%. Tidak sampai satu jam, hiburan twitter itu bakalan lenyap. Satu-satunya tempat di pikiran saya untuk ngecas hanya di BCP. Biar sekalian belanja makanan.

Ada dua pilihan jalan menuju BCP: Lewat Kayuringin atau Jl. Ahmad Yani. Saya putuskan lewat Jl. Ahmad Yani yang jalur banjirnya lebih pendek.

Start saya dimulai dari masjid menuju RS. Mitra Keluarga yang jaraknya 250 meter.

Video di bawah adalah kondisi jalur menuju jalan Ahmad Yani. Malam itu listrik di RW 11 masih menyala. Tapi tidak lama. Air yang berwarna kemerahan itu pantulan cahaya di atas air berwarna coklat.

View this post on Instagram

Pretty scary, isn't it?

A post shared by Ali Reza (@jipele) on

Berita munculnya ular belakangan ini tidak begitu berpengaruh. Maksud saya, saya tidak ingin membayangkannya. Saya berjalan agak lambat. Anak muda yang tadinya di belakang saya tahu-tahu sudah melesat jauh di depan.

Mengarungi banjir satu atau dua kali dalam setahun bukan sesuatu yang buruk. Anggap saja sedang berpetualang di hutan Amazon. Itulah saatnya imajinasi dilepaskan. Lebih-lebih untuk menghilangkan rasa takut. Apalagi di tengah berita munculnya ular di berbagai tempat di Bekasi. Aduh, lagi-lagi ular.

Kira-kira 10 menit kemudian saya sudah sampai di pinggiran Jl. Ahmad Yani. Ada beberapa orang yang saya kenal di sana. Richard, teman saya, baru saja selesai makan di KFC. Ia menginap di Green Hotel.

Saya tiba di BCP jam 20.30. Dua pertiga celana panjang saya sudah basah. Sandal Eiger saya berderit. Untungnya tidak ada yang memerhatikan. Saya langsung pergi ke supermarket, membeli empat bungkus kue wafer, satu liter Hydro Coco dan satu pak Yakult. Saya hanya punya waktu kurang dari setengah jam buat ngecas hape sebelum BCP tutup.

Jalan balik lebih sulit karena air semakin tinggi dan listrik padam di semua RW. Tapi ajaibnya bisa tiba di rumah lebih cepat.

Rumah kosong. Banjir sudah hampir setinggi selutut. Sandal, sepatu di teras mengambang. Mungkin keluarga saya sudah mengungsi ke gazebo RT 005. Suara orang sedang kumpul terdengar dari sana.

Banjir memang belum sampai ke gazebo. Cuma nyaris. Ada keluarga Pak RT di sana. Tapi tidak ada Ayah, Ibu dan adik saya. Saya pastikan mereka mengungsi ke masjid.

Kami juga mengungsi ke masjid waktu banjir 2007. Ramai sekali waktu itu. Halaman masjid dipenuhi motor dan mobil. Tapi banjir kali ini tidak terlalu banyak orang. Mereka hanya menitip kendaraan. Alarm Avanza putih terus berbunyi. Banjirnya sudah setinggi ban.

Setelah memberikan belanjaan ke adik saya, saya kembali ke rumah untuk mengambil kasur lipat dan setelah itu pergi ke masjid.

Hartoyo, teman saya, datang ke masjid dengan kaos dan celana basah kuyup. Kami ngobrol sebentar karena saya harus balik lagi ke rumah untuk mengambil pakaian kering. Saya juga mencari baju saya yang ukuran besar untuk Toyo. Seharusnya sama celana, tapi saya tidak punya celana untuk ukurannya.

Kami menghabiskan waktu mengobrol tentang banjir. Dengan teori yang sepertinya masuk akal. Ayahnya Hartoyo sudah mengungsi ke Apartemen Center Point bersama abangnya. Hartoyo yang mengontrol rumah sekalian menaruh motor di markas FBR. Pakaiannya kerendam. Ia juga pasrah kehilangan kasur dan sofanya. Kulkas, TV dan mesin cucinya sudah terbalik mengambang. Istri Hartoyo kebetulan sedang berkunjung ke kerabatnya di Galaxy. Tapi rumah orang tuanya di Duren Jaya sudah tenggelam. Untungnya dokumen penting sudah diamankan.

Perasan ingin kencing yang sudah dari tadi tidak bisa lagi ditahan. Masalahnya, saya kencing di mana?

Banjir sudah sampai ke WC dan tempat wudhu kamar mandi. Terakhir saya lihat, ada yang kencing di tempat wudhu. Kencing begitu aja di atas banjir. Saya tidak mungkin kencing di situ.

Memang, kondisi masjid masjid lumayan sepi. Orang-orang sudah tidur di lantai dua. Hanya satu dua masih di teras. Tempat paling sepi itu di halaman samping lapangan futsal.

Kencing di rumah pintar bisa jadi pilihan. Tapi di sana sangat gelap. Banjir juga sudah sejajar teras masjid. Meskipun jaraknya 10-12 meter, dengan keadaan seperti itu bisa terasa sangat jauh.

Pilihan lainnya saya bisa saja kencing dari atas teras masjid. Tapi itu sangat … sangat tidak sopan.

Saya pikir, mungkin bisa kencing dekat pohon. Jaraknya sekitar 3-4 meter. Yang saya perlukan hanya tempat lebih tinggi supaya mancur air kencingnya. Saya bisa mencarinya di dekat lapangan futsal, di atas trek lari yang sepertinya banjir tidak terlalu tinggi di sana.

Ok, fix di sana. Tapi entah kenapa saya nyelonong begitu saja di tepian teras dan ….. byurrrr. Saya tercebur. Banjir serasa setinggi dada. Seperti di kolam renang. Tapi kenyatannya hanya sepinggang setelah saya berhasil berdiri. Untungnya tidak ada yang lihat. Tapi karena sudah terlajur basah, ya sudah kencing aja sekalian di situ.

Air kencingnya lumayan banyak, menyebar di sekeliling, terasa hangat dan sedikit berbusa. Mungkin terlihat jelas seandainya saya kencing di kolam yang jernih. Kandung kemih saya terasa lega. Tapi pikiran saya tidak begitu. Jelas saja, sebagian tubuh saya kena air kencing.

Saya berpindah tempat agak jauh untuk cebok dan membersihkan badan. Saya pikir, air di sini lebih bersih ketimbang air di jalanan yang sudah tercampur air got. Dan setelah merasa bersih, saya pergi menaiki tangga dan duduk di samping Toyo.

“Yo, lo ada temennya,” kata saya. “Gue habis kecebur.”

Hartoyo hanya tersenyum.

Sekitar jam 22.00 Pak RT dan istrinya pindah ke masjid. Banjir sudah naik ke Gazebo RT.

Saya dan Hartoyo merasa lelah dan mengantuk. Saya tidur di atas, sementara Hartoyo tidur di bawah, di atas lantai nan dingin masih dengan pakaian basah.

Pagi itu lumayan cerah. Hujan turun lagi jam 3 malam. Hartoyo sudah ganti baju. Bajunya pas di badannya. Banjir belum juga surut, malah semakin tinggi. Baterai hape sudah sekarat. Sudah saatnya cari tempat ngecas.

BCP pastinya belum buka. Tapi ada tempat stop kontak di luar yang bisa dipakai buat ngecas hape. Atau, saya bisa ngecas di Islamic Center. Atau di Circle K sambil ngopi.

Saya dan Toyo pergi ke Circle K tanpa alas kaki. Aneh rasanya menjadi lain sendiri. Jalanan sudah terlihat sibuk. Kamis pagi itu orang-orang sudah mulai pergi kerja setelah libur tahun baru.

Circle K, yang di ruko samping BCP, baru dibuka dua bulan lalu itu juga lumayan ramai. Tapi sayangnya tidak menyediakan tempat ngecas. Karena itu saya berkata pada kasir:

“Boleh numpang ngecas? Korban banjir nih.”

Urusan lain yang lebih mendesak adalah buang air besar. Walaupun masih bisa ditahan, saya bertanya pada kasir untuk jaga-jaga:

“WC di mana ya?”

“Di ruko depan,” jawabnya.

“Jadi di sini nggak ada WC?”

“Nggak ada.”

Saya pergi ke ruko depan, tepatnya di samping travel. Hanya ada satu kamar mandi dengan tulisan WC umum di pintu. Sudah terisi.

Sebenarnya dari tadi saya sudah berpikir pergi ke Islamic Center. Di sana ada air bersih dan bisa ngecas hape. Saya ajak Toyo, tapi Toyo lebih pilih pulang untuk melihat kondisi rumahnya.

Dari foto timeline FB, Islamic Center juga kebanjiran. Tadi malam saya juga lihat jalan raya di depannya banjir. Jalurnya juga ditutup dan dialihkan ke jalur sebelah.

Jam 9 kami berpisah. Saya pergi ke Islamic Center, Toyo pulang ke rumahnya.

Islamic Center tampak lengang. Lumpur menggenang di jalan masuk menuju masjid, warnanya coklat muda seperti coklat dicampur susu. Juga sangat licin, membuat saya yang tidak pakai alas kaki harus hati-hati melangkah. Bagian bawah masjid baru juga banyak lumpur.

Islamic Center pernah jadi tempat favorit saya menulis atau membaca. Suasananya adem. Di hari Sabtu dan Ahad sering dipakai untuk akad nikah. Saya terkadang ikut menyaksikan. Biasanya setelah dari Islamic, saya pergi ke Mal Metropolitan. Mampir ke Gramedia untuk baca-baca.

Pagi itu Islamic sangat sepi. Beberapa orang tidur di dalam masjid. Sepertinya mereka juga korban banjir. Setelah buang air itu, saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk sholat dhuha.

Cerita saya tentang banjir 2020 berakhir di Jum’at sore ketika banjir sudah surut dan listrik menyala. Cerita yang sangat kecil dibandingkan dengan cerita banjir yang menimpa saudara-saudara kita di Pondok Gede Permai. Saya nyaris tidak kehilangan apa-apa. Pekerjaan yang masih tersisa hanya membersihkan lantai dari lumpur, mengeringkan kasur dan barang-barang lain yang dalam beberapa hari juga selesai.

Tag:

1 tanggapan pada “Banjir 2020”

Tinggalkan Balasan