Cerpen: Ayah dan Tukang Koran

  • Ali 
keluarga-smartphone

Saya pernah bernazar, kalau dapat kerja nanti akan membelikan Ayah sebuah smartphone. Tapi saya melewatkan itu. Barulah setelah satu setengah tahun saya bisa membelikannya.

Yang saya beli bukan smartphone biasa. Harganya lima kali lipat harga smartphone saya. Sebuah iPhone terbaru. Kami memberikannya sebagai kejutan di hari ulang tahun Ayah yang ke-57.

“Ini buat Ayah,” kata Ayu, adik perempuan saya.

Ayah menerimanya. Ia memandangnya lama box itu. Wajahnya datar, seolah ada perasaan mengganjal yang tidak ingin diungkapkannya.

Ayah memang tidak suka dibelikan barang mahal. Apalagi smartphone, yang baginya tidak penting-penting amat. Apalagi buat hadiah ulang tahun. Ayah tidak suka merayakan hari ulang tahun. Termasuk ulang tahun anak dan istrinya. Juga hari jadi perkawinan Ayah. Karena itu kami memberikan iPhone itu sebulan setelah ulang tahun Ayah.

“Dapat door prize dari kantor,” saya berbohong.

Jujur, saya membeli iPhone itu dengan gaji saya. Yang jumlahnya tiga kali harga iPhone itu. Tidak mungkin saya bisa membelinya dengan gaji pertama saya, yang kala itu hanya sedikit di atas UMR.

Saya tahu apa yang Ayah pikirkan. Ayah memikirkan rumah ini. Tentang menambal atap rumah yang bocor atau memperbaiki mesin cuci.

Sebenarnya saya sudah merencanakannya. Memasukkan mesin cuci baru ke dalam daftar belanja bulan depan, termasuk mengganti kulkas lama dengan yang lebih besar, mengganti asbes dengan genteng ringan, mengganti lantai teras depan dengan keramik, mengecat rumah, mengganti pintu pagar, menyedot WC. Total biaya renovasi empat puluh juta rupiah. Mudah-mudahan semuanya bisa selesai sebelum lebaran.

Kami merasa lega setelah Ayah mengucapkan terima kasih. Ayah mengusap kepala kami bergantian. Ayu langsung meminta iPhone itu, membuka box-nya dan menunjukkan pada Ayah cara menyalakannya. Ayu juga punya iPhone. iPhone 7 hadiah ulang tahun dari saya tiga bulan lalu.

Hari itu juga, semua anggota keluarga kami resmi memiliki smartphone.

Ayu yang mengajarkan Ayah mendaftar di iCloud dan membuka YouTube. Ayu berumur 14 tahun, duduk di kelas 2 SMP. Dia punya akun Instagram dan Channel YouTube, yang subscriber-nya sudah hampir tiga ratus. Ayah mencoba keras untuk mengerti yang diajarkan Ayu. Terakhir kulihat, iPhone Ayah sudah terpasang WhatsApp.

Meski begitu Ayah masih berlangganan koran Top Skor. Ayah memang penggemar berat sepak bola. Klub favoritnya: Real Madrid dan Persib. Ia selalu serius kalau lagi membaca koran. Ia juga membaca untuk memastikan jadwal pertandingan di TV. Agak aneh sih. Padahal Ayah bisa dengan mudah mengetahuinya dari smartphone.

Nama tukang koran itu Bang Amat. Sudah menjadi langganan Ayah sejak saya SMP. Yang artinya, sampai hari ini Ayah sudah membeli koran dari Bang Amat selama sepuluh tahun. Dulu saya juga sering membaca koran itu. Bisa dibilang saya paling up to date kalau bicara bola di sekolah.

* *

Smartphone memang mengubah kebiasan orang-orang. Perubahan itu terjadi begitu saja tanpa disadari. Di hampir setiap rumah. Tampak wajar ketika setiap anggota keluarga tenggelam dalam smartphone masing-masing.

Saya merasa penting membaca timeline twitter. Menonton YouTube. Geser-geser Tinder. Dan main game. Ayu juga sibuk dengan Instagram-nya. Setiap hari follower-nya bertambah. Video di YouTube-nya juga semakin keren. Sesekali saya menggodanya di kolom komentar. Ibu tidak tahu Ayu punya channel YouTube. Padahal ibu paling sering mendengar lagu-lagu lama di YouTube. Dari YouTube juga, Ibu tahu berita-berita selebritis. Ayu mewanti-wanti saya jangan kasih tau Ibu channel YouTube-nya.

Hanya Ayah, satu-satunya orang di rumah yang jarang menyentuh smartphone-nya.

Terkadang muncul perasaan menyesal membelikan iPhone itu untuk Ayah. iPhone itu lebih sering tergeletak di meja.

Tapi perasaan itu berubah di Sabtu pagi itu, ketika Bang Amat datang ke rumah.

“Koran, Beh!” teriak Bang Amat.

Ayah yang sedang beres-beres di kamar langsung menjawab: “Iya. Bentar.” Lalu buru-buru ia menghampiri Bang Amat.

Bang Amat masih mengantar koran dengan sepeda mini. Dengan keranjang di depannya. Ia memilih koran untuk Ayah dan memberikannya.

“Kemaren masih ada seribu di saya, Beh,” kata Bang Amat.

“Tambahin Warta Kota aja, Mat,” kata Ayah, memberinya selembar lima ribuan.

“Begal tadi malam masuk berita,” Bang Amat menunjuk berita di sudut koran Warta Kota itu. Saya sudah tahu berita itu kemarin malam dari twitter. Lokasinya masih di Bekasi, ada rekaman CCTV-nya juga. Kemudian Bang Amat mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kartu undangan.

“Beh. Anak saya mau kawin.”

“Yang mana? Si Jaja?”

“Lha, emang siapa lagi Beh. Kan si Ani masih SMP. Masa mau dikawinin?”

Mereka tertawa.

“Dateng ya Beh.”

“Insya Allah, Mat.”

Selanjutnya mereka tenggelam dalam obrolan seperti biasa. Bicara tentang politik dan sepak bola. Dari balik jendela ruang tamu saya memerhatikan mereka. Menjelang jam 8 Bang Amat pamit pergi untuk mengantar koran ke pelanggan lain.

Bang Amat memberikan apa yang teknologi – atau bahkan saya – tidak bisa berikan. Ayah tidak pernah menuntut saya untuk mengobrol dengannya. Baginya setiap orang punya dunianya masing-masing. Lagi pula, satu atau dua tahun lagi saya akan meninggalkan rumah ini. Memulai hidup baru dengan keluarga baru. Tapi kejadian Sabtu pagi itu tidak akan pernah saya lupakan. Bang Amat seolah-olah menampar saya dan mengatakan bahwa, Ayah saya tidak butuh iPhone. Ayah hanya butuh keluarganya.

Tinggalkan Balasan